Setiap kali hujan turun
Ia mengetuk jendela kamarku
Melepaskan kaos
dan celana jeansnya
Bulir-bulir hujan
menetes di kelopak matanya yang terkatup menghadap langit
jatuh di kelopak bibirnya yang mekar menawan seperti mawar
mengucur di kulit punggungnya yang halus
menciprat di betisnya
Ia menari telanjang di bawah hujan
mengikuti...
hentak hujan di atas tanah,
detak hujan di atas batu,
denting hujan di ujung ranting
Hingga aku melompat dari jendela
melepas kain
lebur bersama tariannya dan hujan...
Waktu hujan reda
dua kuntum bunga kemboja merah muda
gugur dari pohonnya
buliran hujan masih memeluhi kelopaknya
terbaring indah di pangkuan tanah basah
Kemang, 19 Januari 2010
Puisi Dewi Nova Wahyuni
Ia mengetuk jendela kamarku
Melepaskan kaos
dan celana jeansnya
Bulir-bulir hujan
menetes di kelopak matanya yang terkatup menghadap langit
jatuh di kelopak bibirnya yang mekar menawan seperti mawar
mengucur di kulit punggungnya yang halus
menciprat di betisnya
Ia menari telanjang di bawah hujan
mengikuti...
hentak hujan di atas tanah,
detak hujan di atas batu,
denting hujan di ujung ranting
Hingga aku melompat dari jendela
melepas kain
lebur bersama tariannya dan hujan...
Waktu hujan reda
dua kuntum bunga kemboja merah muda
gugur dari pohonnya
buliran hujan masih memeluhi kelopaknya
terbaring indah di pangkuan tanah basah
Kemang, 19 Januari 2010
Puisi Dewi Nova Wahyuni